“Jangan pulang sebelum tupperware emak ketemu.” Selalu jadi gurauan yang tidak habis dimakan zaman. Sebagai brand wadah/tempat makan legendaris kesayangan emak-emak, ternyata ada fakta menyedihkan di balik brand legendaris ini.

Dikutip dari CBS News (12/2/2023), dalam jumpa pers dan pengajuan sekuritas kepada regulator, Tupperware terang-terangan menyatakan keraguannya untuk terus melanjutkan bisnis.


Akibat kabar ini, banyak warganet yang menyayangkan ketidaksanggupan Tupperware untuk bertahan. Brand yang sudah berdiri sejak 1946 ini memiliki image yang sangat melekat pada warga sehingga banyak yang mempertanyakan alasan Tupperware terancam menutup usahanya.


Tergerus Wabah Corona


Sejak wabah corona tahun 2020, Tupperware mengaku sudah kesulitan untuk mengejar ketertinggalannya dari para kompetitor. Model bisnis yang mengunggulkan permintaan barang dari customer serta pengadaan barang secara fisik ternyata tidak mampu beradaptasi selama corona. Pada fase ini, tupperware hampir kehilangan 95% saham selama 12 bulan.


Dikutip dari The Guardians (13/04/2023), Tupperware juga menyatakan bahwa mereka kesulitan mengikuti kompetitor yang bertumbuh dan beradaptasi dengan pertumbuhan social media secara cepat.



Disrupsi Sosial


Selain karena wabah corona, Tupperware juga mengalami banyak kesulitan untuk menghadapi disrupsi sosial. Yaitu perubahan selera dan preferensi konsumen akibat pergantian generasi. Tidak hanya Tupperware, ternyata terdapat brand-brand lain yang juga tidak mampu mengatasi pergantian generasi ini seperti Harley Davidson dan MTV.


Kalau kamu perhatikan juga, Tupperware memiliki kesulitan dalam mengikuti perubahan dinamis social media, mereka tidak lantas melakukan promosi melalui platform tiktok meski tiktok sedang sangat populer. Hal ini disinyalir menjadi salah satu alasan Tupperware hampir pailit. Tupperware belum sepenuhnya menguasai Gen Z dan/milenial.


Bagaimana Tupperware mengatasinya?


Saat ini, Tupperware memberi informasi bahwa mereka mungkin bertahan jika punya tambahan biaya operasional. Opsi melakukan PHK dan juga menjual aset mungkin dilakukan untuk menyelamatkan perusahaan. Tapi kita tidak tahu sampai kapan Tupperware mampu memenuhi biaya operasionalnya.


Sayang banget ya, padahal brand legendaris ini punya potensi Top of Mind Branding yang sangat kuat di ingatan masyarakat. Menurut minha sih, jadi pelajaran buat kita semua untuk terus beradaptasi dalam menghadapi zaman, bisnis yang mampu bertahan lama adalah yang bisa menguasai pasarnya meski generasi terus berganti. Kalau menurutmu gimana nih?